Nasib Hotel Ibis, Novotel, dan Lapangan Golf Setelah Disita Satgas BLBI

Satgas BLBI (Bantuan Likuidasi Bank Indonesia)  menyita Hotel Novotel Bogor, Hotel ibis Bogor, dan Klub Golf Bogor Raya.

Aset tersebut milik debitur PT Bank Asia Pacific (Aspac) atas nama Setiawan Harjono dan Hendrawan Harjono alias Duo Harjono.

Harta benda sitaan berupa tanah dan bangunan yang berdiri di atasnya atas nama PT Bogor Raya Development, PT Asia Pacific Permai dan PT Bogor Raya Estatindo seluas 89,01 hektar (Ha).

Diperkirakan seluruh harta benda yang disita senilai Rp. 2 triliun.

“Perkiraan awal menyebutkan nilai aset yang disita sekitar Rp 2 triliun saat ini,” kata dr.

Perlu diketahui, pasangan Harjono adalah pemilik bank Aspac yang berutang uang kepada negara Rp. 3,58 triliun.

Setiawan Harjono adalah anak dari mantan Ketua DPR RI Setya Novanto (Setnov).

Dengan aset yang disita mulai dari hotel hingga lapangan golf dengan kegiatan ekonomi, Mahfud memastikan kegiatan operasional dan kerja karyawan tidak terganggu.

Hanya saja pengelolaannya sudah dialihkan ke Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan yang dipercayakan kepada kepala desa Sukaraja di Jawa Barat.

Ungkapan Satgas BLBI

“Ini banyak kegiatan ekonomi dan sosial, termasuk fasilitas umum, olahraga, hotel dan sebagainya, silakan terus beroperasi, tetapi sekarang berada di bawah pengelolaan negara dan tidak lagi di bawah aset PT Bogor Raya Development,” tegas Mahfud.

Penyitaan aset tersebut dilakukan sehubungan dengan pengembalian hak tagih negara sebesar Rp. 3.579.412.035.913.

Dengan demikian, Setiawan Harjono masih memiliki utang BLBI sekitar Rp. 1,58 triliun (belum termasuk biaya administrasi untuk pengelolaan klaim pemerintah).

“Pertama-tama, penting untuk kita ketahui bahwa debitur, Bank Aspac, masih memiliki kewajiban kepada kita. Aset-aset itu kita sita agar paling tidak sebagian bisa diambil dari negara.

Kalau tidak cukup, akan kita kejar lagi,” kata Ketua Satgas BLBI Rionald Silaban.

Rio menegaskan kepada semua pihak bahwa aset duo Harjono saat ini berada di tangan negara.

Yang penting, aset tersebut tidak digunakan untuk mengajukan pinjaman.

“Jadi kami juga secara tidak langsung mengirim pesan kepada kreditur yang memiliki jaminan properti, kami katakan, ‘Hei, satgas BLBI ada di sini, jadi Anda harus mempertimbangkan apakah Anda masih ingin menjadi kreditur yang bersangkutan,'” katanya.

Perbendaharaan Negara Kementerian Luar Negeri. keuangan.

 

Leave a Comment